Reportasejakarta.com – Jakarta, Ecoprint adalah inovasi gaya baru yang penggunaannya memakai bahan alami dedaunan yang sangat mudah didapatkan disekitar lingkungan tempat tinggal kita. Adapun untuk tehnik pewarnaannya sendiri kain dari ecoprint ini harus bisa memilih-milih daun yang akan digunakan. Patut diacungkan jempol berseni tinggi, setiap pembuatannya tidak ada satupun dengan hasil yang sama, semua pasti berbeda-beda. Ecoprint tidak memakai bahan sintetis ataupun bahan kimia.  (14/3/2020).

Semenjak suaminya meninggal Dewi Damayanthi dikenal sosok perempuan yang tangguh, pantang menyerah dan kecintaannya terhadap senipun membawanya kejalur bisnis ecoprint. Tidak menjadi halangan walaupun single parent dia berjuang untuk menafkahi keluarga dengan ke-6 orang anaknya yang kini sudah beranjak dewasa.

Ketika diwawancarai awak media dari Reportasejakarta yang menyangkut bisnisnya, Dewi sangat ramah memaparkan pengetahuan bisnisnya secara jelas dan terinci dengan ketulusan hatinya yang terpancar dari wajahnya. Jiwanya pun terpanggil untuk membantu kaum perempuan Indonesia agar lebih maju, mandiri dan berkembang serta mempunyai penghasilan sendiri tanpa berharap dari suami ataupun orang lain.

Dewi mengatakan bahwa, kakeknya yang suka mengkoleksi berbagai jenis bebatuan seperti akik, cubung dan lainnya yang membuatnya penasaran dan mencobanya terus mencari dan mengkoleksinya lagi untuk dijadikan accsesoris dengan keahlian tangannya mampu menjadikan jenis barang yang bernilai tinggi dan batu- batuan warna-warni yang dikoleksinyapun dapat dijual dengan harga yang sangat mahal,” ujarnya.

Sebelum menekuni ecoprint, Dewi menekuni batik, akan tetapi batik kala itu kalah saing dengan batik dari Cina yang masuk ke pasar Indonesia, membuatnya beralih ke ecoprint.

Untuk motif daun pada ecoprint sendiri mengunakan daun pakis, daun jarak, daun jati dan harus daun segar. Kemampuan memanfaatkan pewarnaan dengan cara memilih. Sementara pewarna alami lainnya terkadang diperoleh dari tanaman – tanaman liar disekitar tempat tinggal dan ada juga yang sengaja ditanam dipekarangan rumah,” ujarnya lagi.

Metode pewarnaan pada kain juga dipraktekan langsung hingga bisa mencapai sesuatu yang diinginkan.

Adapun bahan-bahan alami yang diperoleh misalnya dari getah gambir, jengkol, secang dan lainnya. Jika ingin mendapatkan warna yang merah maka mengunakan gambir, dan jika ingin mendapatkan warna hitam getah gambir dicampurkan tunjung dan banyak lagi dalam tehnik pewarnaan lainnya lagi,”ujarnya.

Sebelum menekuni ecoprint, Dewi menekuni batik, akan tetapi batik kala itu kalah saing dengan batik dari Cina yang masuk ke pasar Indonesia, membuatnya beralih ke ecoprint.

Adapun barang koleksi digaleri yang digelarnya terdiri dari berbagai hasil kerajinan tangannya sendiri seperti, tas dan jaket dari kulit domba yang sudah dikombinasikan dengan ecoprint, kalung, gelang, jam tangan, buku serta aksesoris yang terbuat dari kawat tembaga dan itu semua merupakan buatan Dewi.

Kini anggota saya sudah mencapai 400 orang pengrajin untuk itulah saya banyak memberikan pelatihan dan ilmu untuk kaum ibu rumah tangga serta para perempuan muda lainnya. Bagi perempuan Indonesia, Kartini masa kini yang sangat mulia, harus dapat hidup mandiri, serta tidak bergantung kepada suami,” demikian Dewi Damayanti katakan.

(Larty).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *