REPORTASE JAKARTA

JAKARTA — Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua DPR RI ke-20, Bambang Soesatyo (Bamsoet), mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global. Tekanan terhadap rupiah perlu direspons secara tenang, terukur, dan terkoordinasi agar tidak berkembang menjadi sentimen yang membebani dunia usaha maupun daya beli masyarakat.

“Rupiah harus kita jaga bersama dengan optimisme yang realistis. Kita memiliki fondasi ekonomi, cadangan devisa, serta instrumen kebijakan yang memadai. Yang terpenting sekarang adalah memperkuat koordinasi dan memberi kepastian kepada pasar,” ujar Bamsoet usai mengikuti Sidang Pleno IV Wantimpres RI di Kantor Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (29/10/26).

Bamsoet menjelaskan, pasar keuangan dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, perkembangan harga energi global, arus modal internasional, serta kebutuhan valuta asing korporasi menjelang akhir tahun. Berdasarkan analisis pasar per 28 Oktober 2026, rupiah dan IHSG memang masih menghadapi volatilitas. Namun, situasi tersebut harus dijadikan momentum untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, bukan alasan untuk membangun kepanikan.

“Proyeksi pasar, termasuk kemungkinan pelemahan rupiah ke level tertentu, harus dibaca sebagai peringatan dini, bukan kepastian. Justru karena ada sinyal peringatan, pemerintah dan otoritas moneter dapat menyiapkan langkah antisipatif sejak awal,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menilai Indonesia masih memiliki ruang yang memadai untuk menjaga stabilitas. Posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor—jauh di atas standar kecukupan internasional. Kondisi tersebut mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia yang tetap terjaga.

Namun demikian, Bamsoet mengingatkan bahwa cadangan devisa harus dikelola secara bijaksana. Intervensi pasar diperlukan untuk menjaga stabilitas dan mencegah gejolak berlebihan, tetapi harus disertai kebijakan yang memperkuat pasokan dolar secara berkelanjutan.

“Cadangan devisa adalah benteng penting. Namun benteng yang kuat akan lebih efektif apabila ditopang oleh ekspor yang sehat, devisa hasil ekspor yang terkelola baik, investasi yang terus masuk, serta kepercayaan pasar yang terus dijaga,” ujar Bamsoet.

Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini mendorong beberapa langkah konkret. Pertama, memperkuat koordinasi Pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan pelaku usaha agar pesan kebijakan kepada pasar tetap konsisten. Kedua, mengoptimalkan pengelolaan devisa hasil ekspor serta mempercepat hilirisasi agar sumber dolar berasal dari kegiatan produksi nasional yang bernilai tambah.

Ketiga, kebutuhan valuta asing dari korporasi besar—termasuk pembelian energi oleh Pertamina dan PLN—perlu dikelola melalui perencanaan dan penjadwalan yang lebih baik agar tidak menimbulkan tekanan serentak pada pasar valas. Keempat, pemerintah perlu terus menjaga iklim investasi, kepastian hukum, serta memperluas sumber pembiayaan produktif dari dalam negeri.

“Bank Indonesia tentu memiliki independensi dan instrumen yang cukup untuk menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan suku bunga, intervensi yang terukur, penguatan pasar valas domestik, serta koordinasi fiskal-moneter harus ditempatkan dalam satu orkestrasi yang saling menguatkan,” jelas Bamsoet.

Dosen pascasarjana Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan, dan Universitas Jayabaya ini juga mengajak masyarakat serta dunia usaha agar tidak bereaksi berlebihan terhadap pergerakan harian nilai tukar. Pemerintah perlu memberi informasi yang terbuka dan konsisten, sementara dunia usaha didorong memperkuat penggunaan bahan baku lokal, meningkatkan produktivitas, serta melakukan lindung nilai secara sehat terhadap risiko kurs.

“Pasar membutuhkan kepastian, masyarakat membutuhkan ketenangan, dan dunia usaha membutuhkan arah yang jelas. Dengan kebijakan yang responsif serta kerja sama seluruh elemen bangsa, rupiah dapat tetap stabil dan ekonomi nasional dapat terus tumbuh secara kuat, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Bamsoet.

Larty

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

404 Not Found

Not Found

The requested URL was not found on this server.

Additionally, a 404 Not Found error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.