JAKARTA — “Menghidupkan Budaya untuk Melahirkan Karya” menjadi pesan utama Wakil Jaksa Agung, Prof. Dr. Asep N. Mulyana, S.H., M.Hum., dalam sambutannya di acara Ruang Resonansi.
Asep mengajak generasi muda untuk tidak hanya melihat bangunan bersejarah sebagai gedung tua, tetapi sebagai ruang hidup yang menyimpan cerita dan nilai.
“Kita berada di sebuah bangunan yang menyimpan jejak sejarah. Akan tetapi, sejarah tidak hidup hanya karena sebuah gedung tetap berdiri. Ia hidup ketika kita mengetahui cerita di baliknya,” ujar Asep.
Menurutnya, ketika ruang bersejarah dijadikan tempat belajar, bermusik, bertemu, dan berkarya, maka masa lalu hadir sebagai bagian dari masa depan.
Ia menyampaikan tiga pesan penting. Pertama, anak muda harus mengenal akar budayanya sendiri. Bahasa, kesenian, keterampilan tangan, tradisi, dan nilai hidup warisan leluhur adalah sumber ide yang kaya untuk melahirkan karya yang beridentitas dan mampu berbicara kepada dunia.
“Pelestarian budaya dapat dimulai dengan hal sederhana, seperti mengunjungi ruang sejarah, mendengarkan pelaku budaya, dan mendukung perajin lokal,” katanya.
Pesan kedua, kebebasan berkarya harus berjalan bersama tanggung jawab. Di era teknologi yang serba cepat, Asep mengingatkan pentingnya menghargai karya orang lain, menyebut sumber inspirasi secara patut, dan membangun hubungan yang adil dengan komunitas budaya.
Dari sisi hukum, penghormatan terhadap karya memberi landasan bagi ruang kreatif yang sehat. Dari sisi etika, kejujuran dalam proses berkarya akan membentuk kepercayaan.
Pesan ketiga adalah gotong royong dan kolaborasi. Ia menilai Ruang Resonansi telah berhasil mempertemukan warisan sejarah, pendidikan publik, dan musik dalam satu ruang.
“Pertemuan itu menjadi lebih bermakna ketika seniman, komunitas, pelaku UMKM, dan perusahaan saling membuka ruang,” tuturnya.
Ia pun mengapresiasi kehadiran UMKM dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, di balik sebuah produk lokal terdapat kerja dan pengetahuan keluarga serta komunitas. Ketika masyarakat menghargai pembuatnya, maka pelestarian budaya juga memberi manfaat ekonomi.
Di akhir sambutan, Asep berharap acara ini tidak berhenti sebagai seremonial, tetapi menjadi awal dari aksi nyata.
“Carilah satu cerita tentang lingkungan kalian yang belum banyak didengar. Temuilah orang yang menjaganya, pelajari dengan sungguh-sungguh, lalu olah menjadi tulisan, pertunjukan, desain, atau produk,” pesannya.
Ia juga mengajak IFG Group, Jamkrindo, dan seluruh mitra untuk terus membuka akses publik terhadap bangunan bersejarah serta memberi kesempatan nyata bagi talenta muda dan UMKM lokal.
“Warisan budaya akan terus hidup melalui perhatian dan tindakan kita. Mari jadikan Ruang Resonansi sebagai tempat untuk mendengar cerita, membangun kerja sama, dan melahirkan karya yang berakar pada identitas bangsa,” pungkasnya.
LARTY
The requested URL was not found on this server.
Additionally, a 404 Not Found
error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.