marhaenisme
Reportasejakarta.com – Semarang, MARHAEN adalah rakyat yang miskin atau yang telah dimiskinkan oleh sistem KAPITALISME dan penjajahan dalam segala bentuk dan manifestasinya.

MARHAENIS adalah setiap orang yang berjuang bersama dan membela nasib kaum marhaen serta mengangkat derajat dan martabatnya dari kondisi miskin, melarat menjadi makmur dan sejahtera lahir dan batin (bebas merdeka, berdaulat dan menjadi tuan di negeri sendiri).

MARHAENISME adalah Paham, ideologi, teori perjuangan dan praktik perjuangan untuk mengangkat derajat dan martabat kaum marhaen Indonesia dari belenggu penjajahan politik, ekonomi dan kebudayaan dalam segala bentuk dan manifestasinya untuk bebas merdeka dan berdaulat.

MARHAENISME adalah keseluruhan ajaran Bung Karno, baik sebagai ideolog, politikus maupun negarawan, yang tertulis maupun lisan yang harus diterapkan sesuai dengan perkembangan zaman masa kini dan masa mendatang.

Marhaenisme diterjemahkan sebagai “sosio-nasionalisme” dan “sosio-demokrasi”.

SOSIO-NASIONALISME adalah rasa kebangsaan yang terbentuk karena persamaan nasib dan kepentingan. Ia mengakui perbedaan di antara umat manusia, namun menentang kolonialisme dan kapitalisme.

Sedangkan SOSUA-DEMOKRASI adalah mengakui hak setiap individu untuk hidup sejahtera bersama yang lain.

Sedangkan dalam Amanat Pada Konfrensi Besar GMNI pada tahun 1959 di Kaliurang, Bung Karno menyampaikan,
MARHAENISME adalah suatu asas yang paling cocok untuk gerakan rakyat di Indonesia. Rumusannya adalah sebagai berikut :

MARHAENISME adalah asas, yang menghendaki susunan masyarakat dan Negara yang didalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.

MARHAENISME adalah cara perjuangan yang revolusioner sesuai dengan watak kaum Marhaen pada umumnya.

MARHAENISME adalah dus asas dan cara perjuangan “tegelijk”, menuju kepada hilangnya kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme.

Secara positif, maka Marhaenisme saya namakan juga sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi; karena nasionalismenya kaum Marhaen adalah nasionalisme yang sosial bewust dan karena demokrasinya kaum Marhaen adalah demokrasi yang social bewust pula.

Dan siapakah yang saya namakan kaum Marhaen itu?
Yang saya namakan MARHAEN adalah setiap rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat: yang telah dimelaratkan oleh setiap KAPITALISME, IMPERIALISME dan KOLONIALISME.

Kaum Marhaen ini terdiri dari tiga unsur:
Pertama : Unsur kaum proletar Indonesia (buruh)
Kedua : Unsur kaum tani melarat Indonesia, dan
Ketiga : kaum melarat Indonesia yang lain-lain.

Dan siapakah yang saya maksud dengan kaum Marhaenis?
Kaum MARHAENIS adalah setiap pejuang dan setiap patriot Bangsa.
Yang mengorganisir berjuta-juta kaum Marhaen itu, dan
Yang bersama-sama dengan tenaga massa Marhaen itu hendak menumbangkan sistem kapitalisme, imprealisme, kolonialisme, dan
Yang bersama-sama dengan massa Marhaen itu membanting tulang untuk membangun Negara dan masyarakat, yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur.

Pokoknya ialah, bahwa MARHAENIS adalah setiap orang yang menjalankan Marhaenisme seperti yang saya jelaskan di atas tadi, Camkan benar-benar!: setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama kaum Marhaen!

Pidato Bung Karno dalam konferensi Partindo, Mataram 1933

TENTANG MARHAEN, MARHAENIS, MARHAENISME

1. MARHAENISME yaitu Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi

2. MARHAEN yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.

3. Partindo memakai perkataan Marhaen, dan tidak proletar oleh karena perkataan proletar sudah termaktub didalam perkataan Marhaen, dan oleh karena perkataan proletar itu bisa diartikan bahwa kaum tani dan kaum lain-lain kaum melarat tidak termaktub didalamnya.

4. Karena Partindo berkeyakinan bahwa didalam perjoangan, kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu.

5. Di dalam perjuangan kaum Marhaen, maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum Proletar mengambil bagian yang paling besar sekali.

6. MARHAENISME adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum Marhaen.

7. MARHAENISME adalah pula cara Perjoangan untuk mencapai susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjoangan yang Revolusioner.

8 Jadi MARHAENISME adalah: cara Perjoangan dan Azas yang ditujukan terhadap hilangnya tiap-tiap Kapitalisme dan Imperialisme.

Mengenal Organisasi Massa Marhaen / Nasionalis

*Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI)* melebur menjadi Pramuka
didirikan oleh Dr Moewardi pada 13 September 1930 di Solo.

*Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI)*
Organisasi kesiswaan yang lahir 2 Januari 1959 ini pada sejarahnya merupakan gabungan Gerakan Siswa Nasional  (GSN) yang berpusat di Surabaya dan Ikatan Pelajar Nasional Indonesia (IPNI) yang berpusat di Jogjakarta.

*Gerakan Pemuda Marhaenis (Pemuda Marhaenis)*
Organisasi Kepemudaan berazaskan Marhaenisme ini di lahirkan Tahun 1947 dg nama Pemuda Demokrat Indonesia.
Pada Kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) ke-X tahun 1963 di Purwokerto, Jawa Tengah dalam rekomendasinya menghendaki adanya kejelasan hubungan antara ormas-ormas se-asas dengan Partai Nasional Indonesia maka didalam Kongres Pemuda Demokrat Indonesia Ke-IX tahun 1963 di Solo, Jawa Tengah memutuskan bahwa Pemuda Demokrat Indonesia menjadi :
Merubah nama PEMUDA DEMOKRAT INDONESIA menjadi GERAKAN PEMUDA MARHAENIS dan berasaskan marhaenisme. Merubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi disesuaikan dengan AD/ART PNI.

Pada tahun 1998 kader – kader GPM melakukan deklarasi di Semarang dan mengangkat Rachmawati Soekarnoputri, sebagai Ketua Umum.

Pada tanggal 10 -11 November  2018 dilaksanakan Deklarasi Kebangkitan Kembali Eksistensi Gerakan Pemuda Marhaenis dan Rapat Konsolidasi Nasional setingkat KLB yg melahirkan kepengurusan DPP Catetaker dg Ketum Heri Satmoko dan Sekjen Didik Supandri.

*Pergerakan Sarinah (PS)*
Organisasi Kepemudaan Perempuan lahir 16 Juli 2018 di Jakarta, beranggotakan para perempuan muda usia 21-40 Tahun.

*Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)*
GMNI berdiri pada 23 Maret 1954 di Surabaya (gagasannya lahir di Jakarta). GMNI merupakan organisasi hasil dari penggabungan atau peleburan (fusi) dari tiga organisasi mahasiswa yang telah berdiri sebelumnya, yakni : Gerakan Mahasiswa Marhaen (berbasis di Yogyakarta), Gerakan Mahasiswa Merdeka (berbasis di Surabaya), dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (berbasis di Jakarta).

*Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI)* Berdiri sejak tahun 1963 di Jakarta dan telah menyelenggarakan kongres I dan Seminar Pembangunan Ikatan Sardjana Rakyat Indonesia di Jakarta pada Tanggal 8-13 Januari 1964. Presiden Sukarno menyampaikan sambutan tertulisnya tertanggal 6 Januari 1964.

Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia melakukan Deklarasi Revitalisasi ISRI pada tanggal 11 November 2017 di Yogyakarta beranggotakan Ahli Madya dan Sarjana dari berbagai latar belakang.

*KBKI-KBM*
Konsentrasi Buruh Kerakyatan Indonesia (KBKI) kemudian 10 Desember 1952 menjadi Kesatuan Buruh Marhaenis (KBM) – Tahun 1963 sesuai Kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) ke-X tahun 1963 di Purwokerto, Jawa Tengah dalam rekomendasinya menghendaki adanya kejelasan hubungan antara ormas-ormas se-asas dengan Partai Nasional Indonesia.

*Pesatuan Tani Nasional Indonesia (PETANI)*
Merupakan organisasi tani yang pada perkembangannya pada era Orde Baru menggabungkan diri dalam Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) melalui Ketua Umum PETANI yang juga menteri Agraria Sadjarwo.

*Gerakan Nelayan Marhaenis (GNM)* nama GNM sesuai Kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) ke-X tahun 1963 di Purwokerto, Jawa Tengah dalam rekomendasinya menghendaki adanya kejelasan hubungan antara ormas-ormas se-asas dengan Partai Nasional Indonesia. mengadakan kongres pertama di Tegal pada Juli 1965, pada perkembangannya pada era Orde Baru di lebur dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia.

*Pendidik /Guru*
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) lahir pada Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. (nasionalis)

Gerakan Pendidik Marhaenis lahir sesuai hasil Kongres X PNI di Purwokerto tahun 1963.

Saat ini lahir Gerakan Pendidik Pancasila (GPP) yang di inisiasi oleh Yayasan Pendidikan Nasionalis, Aktivis ISRI, Alumni GMNI dan GSNI pada Simposium Nasional Pendidikan Pancasila pada tanggal 14 – 15 September 2019 di Graha Pancasila, Batu Malang, Jawa Timur.

*Jurnalis / Wartawan*
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) PWI berdiri pada 9 Februari 1946 di Surakarta bertepatan dengan Hari Pers Nasional tokoh Nasionalis saat itu Karim DP, namun kemudian ketika era Orde Baru PWI dalam cengkraman Orde Baru

Lahirlah Aliansi Jurnalis Independen atau AJI adalah organisasi profesi jurnalis, yang didirikan oleh para wartawan muda Indonesia pada 7 Agustus 1994 di Bogor, Jawa Barat, melalui penandatangan suatu deklarasi yang disebut “Deklarasi Sirnagalih”.

Organisasi ini didirikan sejak pembredelan tiga media –DeTik, Tempo, Editor pada 21 Juni 1994 dan didirikan sebagai upaya untuk membuat organisasi jurnalis alternatif di luar PWI karena saat itu PWI dianggap menjadi alat kepentingan pemerintah Soeharto dan tidak betul-betul memperjuangkan kepentingan jurnalis.

*Pamong & Pensiunan*
Ikatan Pamong Rakyat Nasional Indonesia (IPRIN) berpusat di Semarang

Korp Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) / Nasionalis

Persatuan Wedratama Republik Indonesia (PWRI) / Nasionalis.

*Pengusaha*
Asosiasi Kelompok Usaha Rakyat Indonesia (Akurindo)
Perhimpunan Pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah Indonesia (PP UMKM Indonesia)
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) – (Pengusaha Pejuang – Pejuang Pengusaha) mottonya hampir sama dengan GMNI
Kamar Dagang Indonesia (KADIN) / Nasionalis
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) / Nasionalis.

*Kaum Miskin Kota / Desa*
Gerakan Rakyat Marhaen (GRM)

*Bela Negara*
*Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI )*
pada 1 November 1944 didirikan sebuah organ bernama Barisan Pelopor (Syuisyintai) yang ada di bawah kendali  Djawa Hokokai.

“Sebagai pimpinan diangkatlah Ir. Sukarno, sedangkan tiga wakilnya adalah R.P. Suroso, Otto Iskandardinata dan dr. Buntaran Martoatmojo serta dr.Moewardi selaku pimpinan Barisan Pelopor cabang Jakarta.

Pada 16 Desember 1945, di bawah dr.Moewardi BP merubah namanya menjadi BBRI.

*Tentara Republik Indonesia Pelajar*
TRIP adalah pelajar pejuang sedangkan MENWA atau Resimen Mahasiswa adalah pemikir pejuang pejuang pemikir.

*PERWANAS*
Organisasi ini didirikan di Jakarta pada tanggal 14 Januari 1951, dengan nama Wanita Demokrat Indonesia. Dalam Kongres V tanggal 16 Juli 1964 berubah nama menjadi Gerakan Wanita Marhaenis dan selanjutnya pada Kongres VI tanggal 3-7 Desember 1973, nama organisasi dirubah menjadi PERGERAKAN WANITA NASIONAL INDONESIA, yang disingkat menjadi PERWANAS.

Kongres Wanita Demokrat ke-III memutuskan untuk mendirikan Yayasan yang diberi nama Yayasan Dharma Bhakti, yayasan ini bergerak di bidang pendidikan, sosial dan keagamaan, dengan tujuan utama menopang dana untuk segala kegiatan Wanita Demokrat Indonesia. Sejak itu yayasan diserahi mengelola asset PERWANAS, berupa PAUD, TK, SD, SMP dan SMA serta Balai Pengobatan yang terletak di beberapa Propinsi di Indonesia .

*Agama, Kepercayaan & Keyakinan*
Djamiatul Muslimin Indonesia
Marhaen Nahdliyin (MarNU)
Marhaen Muhammadiyah (MarMud)
Ikatan Kristen Nasional Indonesia (Ika Krisna)
Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai)
Pemuda Marhaen Katolik (MarKatol).

*Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN)* Ditingkat daerah yang pertama kali berdiri adalah LKN cabang Solo berdiri tahun 1955 dan LKN yang berdiri di Bali tahun 1956 dengan sebutan LKN cabang Denpasar. Lembaga ini dibentuk tahun 1959 di Jakarta, diketuai oleh Sitor Situmorang.

Paguyuban / Organisasi Masyarakat Massa Marhaen

*Keluarga Besar Marhaenis*
Keluarga Besar Marhaenis dirintis sejak tanggal 4 Juli 1998, kemudian dibentuk pada tanggal 1 Januari 1999 oleh sejumlah Warga Marhaenis, pertama kalinya pada Musyawarah Nasional I Keluarga Besar Marhaenis di Cibubur, Bogor pada tanggal 9 – 11 Desember 2004 dan kemudian disempurnakan untuk kedua kalinya berdasarkan Keputusan Musyawarah Nasional II Keluarga Besar Marhaenis pada tanggal 4 – 6 Maret 2011 di Yogyakarta.

*Generasi Penerus Penyambung Lidah Rakyat /Genepdara*
Lahir di Jakarta 4 Juli 2005.

penulis : DRS Heri Satmiko

Gerakan Pemuda Marhaen

(Larty).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *