Reportasejakarta.com-Setiap kali ada berita larangan menggunakan cadar selalu muncul pembelaan atas nama agama. Tidak sedikit orang Islam yang berpikir bahwa cadar adalah representasi kesalehan. Memakai cadar dianggap bagian dari ibadah yang dipilih dengan alasan semakin tinggi ketaatan beragama.

Padahal, bahkan Universitas Al-Azhar, Mesir, yang saat ini dikenal sebagai pusat studi Islam tertua pun melarang penggunaan cadar di kampus dan sekolah yang berafiliasi dengan Al-Azhar. Imam Besar Al-Azhar (1996-2010) Muhammad Sayyid Tantawi pada tahun 2009 mengatakan cadar tidak ada hubungannya dengan kewajiban dalam Islam, melainkan hanya tradisi di negara-negara Timur Tengah.

Larangan penggunaan cadar di area kampus pun masuk akal, agar interaksi komunikasi antara guru dan siswa berjalan lancar. Alasan yang sama juga diterapkan Universitas Kairo, Mesir yang melarang cadar kepada semua dosen dan asisten dosen saat memberikan kuliah.

Sebagai negara mayoritas berpenduduk muslim pun, Mesir juga menyiapkan undang-undang larangan penggunaan cadar di tempat umum dan instansi pemerintah. Baik karena alasan keamanan maupun kemudahan komunikasi antarwarga.

Anggota parlemen Amna Nosseir yang juga Profesor Filsafat Islam di Al-Azhar mengatakan, mengenakan cadar bukan tradisi Islam. Menurutnya, Al-Quran hanya menyebut perempuan muslim untuk mengenakan pakaian sederhana dan menutup rambut mereka, tapi tidak meminta muslimah menutup wajahnya. Mantan dekan Al Azhar tersebut malah mengatakan kalau cadar adalah tradisi Yahudi yang berkembang sebelum Islam.

Turki yang bahkan pernah melarang pemakaian jilbab sama sekali di tempat umum selama lebih dari 85 tahun sejak zaman Kemal Ataturk pun masih melarang cadar di tempat umum dan instansi pemerintah. Jilbab saat ini boleh dipakai di Turki, namun yang tidak menutupi dagu. Jilbab yang menutup seluruh bagian leher apalagi muka tetap dilarang.

Tuduhan bahwa larangan penggunaan cadar adalah sebagai bentuk islamofobia atau alasan pelanggaran kebebasan berekspresi tidak sepenuhnya benar. Larangan cadar seringkali adalah keputusan politik yang bisa berubah sewaktu-waktu demi alasan publik yang lebih besar.

Suriah pernah melarang cadar di kampus, namun kemudian mencabutnya pada 2011. Kanada juga melarang cadar di acara kenegaraan pada 2011, namun tidak lagi melarang pada 2015.

Tunisia yang telah melarang cadar sejak 1981, kembali membolehkan pada 2011. China melarang cadar hanya di wilayah Urumqi, Xinjiang. Larangan cadar juga berlaku secara terbatas seperti di Novara dan Lombardy (Italia), Barcelona (Spanyol), atau Stavropol (Rusia) pada 2013.

Perancis, Belgia, Chad, dan Austria melarang pemakaian cadar secara nasional di tempat umum. Sementara Belanda dan Bulgaria hanya melarang di instansi pemerintah dan fasilitas publik. Srilanka, Jerman, dan Swiss tengah menggodok aturan larangan cadar secara nasional.

Jadi jelas kan larangan cadar tidak ada hubungannya dengan agama. Buat diskusi aja biar makin terbuka wawasan kita.

Sumber: https://bit.ly/3s0DfNq

 

(Red).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *