REPORTASEย JAKARTAKota Tangerang – Kondisi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di antara gerai Alfamart dan SDN Sukasari 6, Kota Tangerang, memicu kekhawatiran serius warga. Billboard Plat aluminium pada bagian atas jembatan terbuka dan menganga, sementara atap pelindung terkelupas, menghilangkan fungsi dasarnya sebagai proteksi bagi pejalan kaki.
Pengamat infrastruktur, Rusdi Saleh, S.H., M.H., menilai situasi ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan indikasi lemahnya sistem kontrol dan manajemen aset publik di tingkat pemerintah daerah. “Ini bukan kerusakan yang terjadi dalam semalam. Degradasi struktur seperti ini berlangsung bertahap dan bisa dideteksi sejak dini apabila ada inspeksi rutin. Jika sampai plat dalam posisi terbuka dan berpotensi terlepas, itu artinya ada pembiaran,” tegas Rusdi, Jumat (20/2).
Rusdi menyoroti keberadaan papan billboard di atas badan JPO yang menambah beban struktur. Sejumlah lembaran plat aluminium atau seng yang terpasang pada media tersebut terlihat tidak stabil dan rawan terlepas ketika diterpa angin kencang dan hujan deras.
“Saya takut. Kalau angin kencang atau hujan deras, saya khawatir ada bagian yang copot dan jatuh. Anak-anak saya masih kecil. Kalau sampai terjadi sesuatu, siapa yang bertanggung jawab?” ujar Anik Lestari, warga Buaran Mekarsari, dengan nada resah.
Anik mengaku dihantui kekhawatiran setiap kali menjemput dua anaknya yang duduk di kelas 1 dan 3 di SDN Sukasari 3. “Kadang saya berpikir lebih baik menyeberang langsung di jalan saja, tapi itu juga berbahaya karena kendaraan ramai. Kami seperti dipaksa memilih antara dua risiko,” tuturnya.
Kerusakan atap JPO juga berdampak langsung pada siswa SDN Sukasari 6 yang setiap hari menggunakan fasilitas tersebut. Tanpa pelindung yang layak, anak-anak terpapar hujan dan panas ekstrem.
Rusdi mendesak Pemerintah Kota Tangerang untuk segera melakukan audit struktural komprehensif, termasuk uji kelayakan dan evaluasi beban tambahan pada JPO tersebut. “Kami meminta dengan tegas agar Pemkot Tangerang tidak bersikap reaktif. Prinsip kehati-hatian harus menjadi pijakan utama. Jangan sampai perbaikan baru dilakukan setelah ada insiden yang memakan korban,” pungkasnya.
Pemerintah Kota Tangerang belum memberikan keterangan resmi mengenai jadwal inspeksi maupun rencana perbaikan JPO tersebut. Kasus JPO Sukasari 6 menjadi pengingat bahwa pembangunan kota tidak hanya diukur dari kuantitas proyek yang berdiri, tetapi dari kualitas pemeliharaan dan komitmen menjaga keselamatan warganya.
“Kita berbicara tentang benda keras dari ketinggian. Energi kinetik yang dihasilkan saat jatuh bisa berakibat fatal. Pemerintah tidak boleh menunggu korban jiwa untuk kemudian bereaksi,” kata Rusdi.
Warga berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk memperbaiki JPO tersebut dan memastikan keselamatan anak-anak sekolah. “Kami hanya ingin anak-anak kami aman dan sehat,” ujar Anik.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi JPO Sukasari 6 masih sama, plat aluminium terbuka dan atap pelindung terkelupas, mengancam keselamatan warga sekitar.
Sumber Rohim