REPORTASEย  JAKARTA

JAKARTA — 22 April 2026, SETARA Institute menegaskan bahwa promosi toleransi di daerah tidak bisa hanya bertumpu pada kepala daerah. Birokrasi dan masyarakat sipil harus menjadi pilar yang sama kuat agar kebinekaan benar-benar hidup di tingkat kota.

Direktur Eksekutif SETARA Institute, Ismail, menyebut bahwa banyak kepala daerah mengeluh karena birokrasi sering kali menjadi pengendali nyata pemerintahan. โ€œItu puluhan tahun dia berada di pemerintah. Makanya banyak pemimpin mengeluhkan adanya disk di mana birokrasi menjadi pengendali negara, menjadi pengendali pemerintahan, menjadi pengendali kementerian,โ€ ujarnya saat peluncuran Indeks Kota Toleran 2025 di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Menurut Ismail, kondisi ini membuat menteri dan wakil menteri seperti โ€œanak kosโ€. โ€œDi zaman Pak Prabowo ini nggak ada yang tahu besok bisa diganti, besok bisa diperpanjang dan seterusnya. Karena rahasianya kira-kira semacam itu,โ€ katanya. Ia menilai birokrasi yang disebut sebagai kepemimpinan birokrasi ini punya pengaruh besar dalam menjaga atau justru menghambat agenda toleransi.

Ismail menekankan bahwa rumus keberhasilan toleransi terdiri dari tiga pilar: kepemimpinan politik, kepemimpinan birokrasi, dan kepemimpinan sosial. โ€œKalau kepemimpinan politiknya kuat, kepemimpinan birokrasinya kuat, tapi kepemimpinan sosialnya lemah, ini juga tidak jalan bapak ibu sekalian,โ€ tegasnya.

Karena itu, tahun ini SETARA Institute memberikan kejutan dengan turut memberikan penghargaan kepada masyarakat sipil. โ€œSetiap hari Jumat kami mengundang beberapa perwakilan masyarakat sipil dan akan kami berikan penghargaan atas peran-perannya. Selama ini kan penghargaan walikota dan wakil walikota yang terima, kita berikan juga apresiasi ke masyarakat. Itu bagian dari pilar, jadi tiga saja, rumusnya bagus sekali, tidak rumit-rumit,โ€ jelasnya.

Ia mencontohkan praktik baik dari Walikota Salatiga, Singkawang, dan Semarang yang aktif berbagi pengalaman dalam Konferensi Kota Toleran. Sukabumi juga disebut mengalami kemajuan signifikan, meski ada catatan saat Lebaran Maret lalu. โ€œKalau Sukabumi tidak berbenah, seharusnya peristiwa rutin Lebaran yang berbeda itu bisa jadi temuan yang harus diingat,โ€ ujarnya.

Ismail juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian dan Out Foundation sebagai mitra tradisional yang terus mendukung kerja-kerja kebangsaan. Tak lupa ia berterima kasih kepada puluhan peneliti yang bekerja di bawah kepemimpinan Pak Halili. โ€œTanpa peneliti yang tekun, kita yang sudah senior ini kadang malas membaca buku dan berita. Padahal kalau saya tidak baca, mahasiswanya tidak dapat ilmu baru,โ€ selorohnya.

Di akhir, Ismail berharap IKT 2025 menjadi bagian dari ikhtiar kolektif mencintai republik. Ia menyebut toleransi adalah bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya Asta Cita ke-8. โ€œPromosi toleransi bukanlah kerja kemunduran, tetapi dia adalah mainstream di dalam pemerintahan,โ€ tutupnya. (Larty).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://bumimineralsulawesi.com/smelter

https://enspirestudio.com/about/

https://catalog.widyagama.ac.id/

https://thekitchenwithnina.com/hello-world/

https://trickut.com/mint-mobile-review-everything-you-need-to-know-and-is-it-worth-it/

ace99play login

https://library.akfarsurabaya.ac.id/

dewaslot88

https://dentiloquent.com/category/blogs/

Aceplay99

Aceplay99

https://bearmarketleader.com/

https://www.nabire.net/hubungi-kami/

https://www.nasmocojogja.net/konsumen-toyota-jogja/

https://devbook.net/work/