Reportasejakarta.com-Pemerintah ingin memastikan bahwa kejadian berisiko seperti evakuasi korban banjir dan pengungsian sementara, tidak menambah tingginya risiko penularan virus Sars Cov-2 penyebab Covid-19.

Hal tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah, dr. Reisa Broto Asmoro dalam keterangan persnya di Kantor Presiden (26/02) yang ditayangkan pada kanal Youtube Sekretariat Presiden.

dr. Reisa mencontohkan Kota Pekalongan di Jawa Tengah misalnya, berinisiatif untuk melakukan penyekatan ruang di lokasi pengungsian sebagai upaya agar lokasi pengungsian tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

“Inisiatif yang dilakukan Gubernur dan BPBD Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Pekalongan perlu kita apresiasi”, ucap dr. Reisa

dr. Reisa menambahkan bahwa selain aman dari dampak banjir, yang juga harus menjadi perhatian utama adalah kesehatan jiwa masyarakat.

“Selaras dengan perhatian masyarakat dunia, pemerintah juga serius memperhatikan kesehatan jiwa”, tambah dr. Reisa.

Dalam kaitannya dengan aspek psikologis, Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 telah meluncurkan buku panduan kesehatan jiwa pada masa pandemi Covid-19. Buku tersebut memberikan informasi seputar kesehatan jiwa dan peran keluarga yang disajikan dalam bahasa sederhana.

Para ahli yang menyusun buku panduan tersebut memperhatikan munculnya rasa bosan dan jenuh menghadapi situasi pandemi yang penuh dengan keterbatasan, lalu muncul juga rasa cemas dan takut terhadap risiko penularan. Selain itu, bagi sebagian masyarakat yang sudah terlalu lama di rumah, muncul emosi yang tinggi juga tidak terkendali serta tantangan emosional lainnya.

“Keluarga adalah jawaban utama untuk membuat suasana lingkungan rumah agar nyaman dan aman, sehingga mampu mempertahankan kesehatan anggota keluarga, terutama apabila anggota keluarga ada yang menjadi pasien Covid-19”, jelas dr. Reisa.

Reisa menjelaskan bahwa terdapat empat hal yang anggota keluarga dapat lakukan untuk saling membantu. Satu, memberikan dukungan emosional dengan menunjukan kepedulian dan perhatian terhadap pasien atau penyintas Covid-19 saat mengalami tekanan dalam proses pemulihan. Dua, memberikan dukungan informasi melalui saran, petunjuk, dan masukan yang berasal dari sumber yang valid dari ahli di bidangnya. Tiga, memberikan penghargaan dan dukungan yang tulus atas semangat dan perkembangan harian yang dialami pasien dan/atau penyintas Covid-19. Empat, memberikan dukungan lainnya seperti hadiah atau apapun yang dibutuhkan pasien atau penyintas.

Di akhir keterangannya, Reisa juga menjelaskan terkait perkembangan program vaksinasi. Beberapa kelompok masyarakat meliputi pedagang pasar, kelompok masyarakat lanjut usia, wartawan, atlet, guru, dosen, serta tenaga pendidik lainnya sudah dimulai untuk mendapatkan vaksinasi Covid-19. Selain itu, vaksinasi tahap I bagi tenaga kesehatan sudah mencapai 100% dari sasaran awal untuk dosis pertama.

(Red).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *