Billy Mambrasar,
Staff Khusus Presien RI asal Papua.

Ini memang bukan pengalaman pertama saya mendampingi Presiden Joko Widodo kunjungan kerja, karena sebelumnya, saya telah diajak melakukan kunjungan kerja di beberapa Provinsi dan Kabupaten lainya di Indonesia.

Tetapi ada sesuatu yang istimewa dari kunjungan kali ini, karena selain dilakukan di tanah kelahiran saya sebagai seorang Asli Papua, juga kunjungan kerja saat ini, adalah kunjungan kerja dengan durasi terlama saya bersama beliau, oleh sebab itu, saya berkesempatan menyaksikan beberapa momen spontan aksi humanis dengan orang Papua, yang tidak tertangkap kamera wartawan, atau pers. Saya bersyukur kepada Tuhan, diberikan kepercayaan untuk mendampingi beliau, sehingga bisa melihat langsung dari dekat.

Ijinkan saya membagikan cerita tentang 3 momen spontan beliau yang membekas di hati saya, hingga hari ini.

Pertama, pengalaman di Kota Jayapura, yang sempat viral. Momen yang ditangkap wartawan hanyalah pada saat presiden berinteraksi dengan seorang Suster beragama Katolik yang meminta beliau turun agar mereka dapat menyapa Pak Jokowi dari dekat.

Ada hal yang tidak tertangkap kamera saat itu, yakni saat beliau turun dari mobil menuju ke tempat mama-mama berjualan Noken, sangat mengharukan bagi saya saat melihat beliau memperbaiki tata letak jualan sebuah Noken milik mama tersebut, yang digantung diatas berdasarkan warna dan desain. Beliau melakukannya dengan cepat dan namun teliti, sebelum kemudian berinteraksi kembali dengan mama-mama sang Penjual, tersebut dan membeli noken jualanya.

Kedua, di Kota Sorong, di samping lahan pertanian Jagung, saat mengunjungi para petani, Pak Jokowi berhenti sejenak ketika seorang anak-anak, dengan logat Papua yang cukup kental teriak: “Pace Jokowi, woiii!! Mari dolo, mari dolo!!”. Hal ini sempat terdengar tidak sopan didengar oleh kami yang lain, akan tetapi, beliau berhenti sejenak, tersenyum menembus rumput rawa-rawa, dan melambai ke arah anak tersebut.

Tidak ada rasa tersinggung, atau rasa terganggu yang ditunjukkan Pak Jokowi saat itu. Bahkan beliau sempat berjalan menuju ke anak tersebut, akan tetapi diperingatkan oleh Bupati Sorong saat itu, bahwa jalan tersebut lembek, dan rawanya dalam, dan cukup berbahaya. Akhirnya Presiden yang telah setegah jalan berjalan kembali, lalu memberikan kode agar anak tersebut berputar, dan bertemu dengan beliau di Jalan yang lebih padat. Presiden kemudian memberikan baju Tshirt dan Buku kepada anak tersebut.

Ketiga, sebelum momen Pak Jokowi memberikan jaketnya kepada anak remaja Papua di Kota Sorong, di depan di pinggir jalan masuk, ada seorang Ibu yang mendorong anaknya maju anaknya, yang kemudian oleh Presiden, ditahan di bagian bahu anak tersebut untuk membantu menjaga kestabilannya berdiri. Paspampres sempat menegur Ibu tersebut, bahwa berbahaya, hal yang dilakukanya terhadap anaknya. Presiden tetap berfoto bersama dengan anak itu dan ibunya, dan memberikan buku dan kaos kepada keduanya, dan melepas mereka dengan senyuman khasnya.

Apa makna dari tindakan-tindakan kecil beliau diatas?

Untuk momen pertama, banyak yang mungkin lupa bahwa Pak Jokowi sebelum menjadi Presiden, adalah seorang pengusaha, memulai dari usaha kecil-kecilan, sederhana, sebelum menjadi pengusaha Mebel yang sukses. Saat beliau memperbaiki tata letak jualan noken mama mama tersebut, menunjukkan bahwa beliau masih memiliki “Sense” tentang bagaimana perjuangan seorang pelaku usaha kecil, untuk menjajakan produknya, yang mungkin, hanya pedagang kecil saja yang memahami. Pak Jokowi mengatur, agar noken yang desainnya lebih menarik dan warna lebih terang, diletakkan di bagian depan, agar menarik perhatian orang-orang yang lewat, untuk membeli barang jualan mama-mama tersebut.

Bukan hanya bahwa Pak Jokowi membeli jualan tersebut lebih dari harga yang ditawarkan, beliau juga meninggalkan sedikit oleh-oleh ilmu dagang sederhana: “aturlah jualanmu dengan desain paling bagus, dan warna paling menarik di bagian depan di pinggir jalan”. Selain itu, beliau juga memberikan dorongan psikologis kepada mama tersebut, dan mama-mama lain yang berjualan di tempat lain, bahwa Presiden tau perjuangan mereka, dan akan selalu memberikan dukungan yang terbaik. Presiden juga sekaligus mencontohkan kepada kita semua, agar tidak merasa gengsi untuk berbelanja di pinggir jalan, berbagi rejeki dengan para pelaku UMKM, bukan hanya di Papua, tetapi di seluruh Indonesia.

Dalam Momen kedua, dalam Jabatan dan Kekuasaan yang dimilki beliau, ketika dipanggil dengan teriakan: “Woiii”, mungkin adalah hal yang kurang sopan. Akan tetapi beliau memahami, yang memanggilnya adalah seorang anak-anak, yang mungkin tidak memahami tentang ukuran sopan dan tidak sopan, dan masih dalam proses belajar. Anak tersebut hanya mengekspresikan kekaguman kepada beliau, dan keinginannya untuk berekspresi.

Pak Jokowi berhenti, menoleh, tersenyum, dan mengajaknya bertemu, dengan penuh rasa rendah hati, bahwa kuasa, dan jabatan, tidak perlu membuat kita harus sombong, angkuh, dan merasa harus selalu di hormati. Momen ini mendidik saya, dan para pejabat lain yang ikut saat itu, untuk tetap rendah hati, apapun berkat, kedudukan, ataupun posisi yang kita emban saat ini.

Momen ketiga, spontanitas Presiden untuk menahan keseimbangan anak yang didorong oleh ibunya, merupakan naluri alaminya untuk melindungi. Tidak juga beliau merasa geram dengan perilaku ibunya, beliau berfoto dan memberikan souvenir kepada keduanya. Momen ini, pun begitu cepat, sehingga luput dari rekaman foto dari wartawan yang ada.

Sebagai seseorang yang saat ini sedang melakukan studi tentang perkembangan manusia, saya secara intuitif melakukan observasi dan menelaah ketiga momen tersebut diatas. Salah satu topik yang saat ini sedang saya pelajari dalam 2 mata kuliah saya di Harvard University, dalam Pembidangan Human Development Psychology (Psikologi Perkembangan Manusia): “Typical and Atypical Neurodevelpment” dan “Adult Development”, kami membedah rasa psikologis dari seseorang yang disebut dengan: “Empati”.

Seseorang yang menyayangi dan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain disebut dengan: EMPATI. Para ilmuwan mengkategorikan Empati dalam 3 jenjang, yakni: Empati Kognitif (Cognitive Emphaty), Empati Emosional (Emotioal Emphaty), dan Empati Penuh Kasih (Compassionate Emphaty). Perkembangan kedewasaan seseorang, bukan hanya diukur dari ada atau tidaknya empati dalam dirinya, tetapi pada tahap manakah dia berada.

Pertama, Empati Kognitif, terbatas pada tahap dimana seseorang mengerti apa yang dirasakan oleh orang lain. Kedua, Empati Emosional, adalah tahap lebih lanjut dari empati kognitif, yakni bukan hanya mengerti, akan tetapi juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lan. Ketiga: Empati Penuh Kasih, adalah bahwa bukan hanya kita mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, akan tetapi, juga harus diikuti dengan tindakan nyata dari Empati tersebut, seperti: menghibur, melindungi, memberi keamanan, dan beberapa tindakan nyata lainnya.

Misalnya, ketika melihat orang yang sedang lapar dan terduduk di pinggir jalan, seseorang dengan Empati Kognitif, hanyalah akan sampai pada tahapan psikologis: “Saya mengerti bahwa pasti dia lapar” saja. Seseorang pada tahapan Empati Emosional akan juga “Ikut merasa lapar”, ketika melihat orang tersebut. Akan tetapi, seseorang dengan Empati Penuh Kasih, akan memutuskan untuk berhenti, lalu memberikan makanan, atau bantuan nyata dalam bentuk apapun, untuk membantu orang tersebut.

Dalam ketiga momen diatas, Pak Jokowi menunjukkan bahwa dia memiliki Empati Penuh Kasih, bukan hanya sekedar Empati Kognitif, atau Empati Emosional saja, dengan langsung ditunjukkan dalam tindakan nyata, yang spontan (artinya tidak dibuat-buat).

Tulisan dari Roman Krznaric, seorang ilmuwan psikologi sosial dari Universitas Cambridge, Inggris menjelaskan, bahwa seseorang dengan Empati Penuh Kasih, adalah merupakan pemimpin yang mampu membuat perubahan besar, atas dasar kemampuannya merasakan apa yang paling dibutuhkan oleh orang lain dan diikuti dengan tindakan nyata yang besar, apapun resikonya. Dasar dari Empati penuh kasih, adalah: Kerendah Hatian, dan ketulusan, lanjut Roman dalam tulisan tersebut.

Dari tiga momen diatas saya belajar satu hal bari lagi. Selain dari ratusan nasihat lain yang telah saya dapat dari Pak Jokowi, dalam momen kali ini, saya belajar bahwa hal-hal yang dilakukan oleh Pak Jokowi, untuk Bangsa Indonesia, terkhususnya untuk Tanah Papua dan Orang Papua, dasarnya adalah Empati Penuh Kasih.

Empati Penuh Kasih Inilah sebenarnya adalah sebuah dasar utama menjadi seorang pemimpin, untuk membuat perubahan besar, untuk membangun dan memajukan orang lain. Dalam kepemimpinan, Pintar bukan yang utama, kekuasan bukan yang absolut, akan tetapi kerendah hatian, dan ketulusan, itulah yang menjadi dasar kepantasan dan kemampuan seseorang, untuk disebut: Pemimpin.

(Red).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *