REPORTASE JAKARTAJAKARTA – Pengakuan blak-blakan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla soal perannya mendorong Joko Widodo maju Pilgub DKI Jakarta menuai apresiasi. Dalam podcast bersama Rocky Gerung, JK membuka lembar sejarah politik yang selama ini hanya diketahui kalangan terbatas.
Tokoh hukum sekaligus pengamat politik, Erles Rareral, menyebut keterbukaan JK sebagai potongan penting mozaik kepemimpinan Indonesia.
“Om JK sedang membuka lembar sejarah politik Indonesia yang selama ini hanya diketahui kalangan terbatas. Ini bukan sekadar cerita nostalgia, tetapi pelajaran tentang bagaimana kepemimpinan nasional dibentuk melalui pembacaan visi, pengalaman, dan keberanian mengambil keputusan,” ujar Erles, Sabtu, 26/4/2026.
Dalam podcast tersebut, JK mengaku secara personal mendorong Jokowi maju sebagai Gubernur DKI Jakarta, termasuk berkomunikasi langsung dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Proses itu bermula dari seminar di Semarang, obrolan santai saat makan, hingga komunikasi strategis tingkat elite.
Erles menilai bahasa JK memperlihatkan “chemistry politik” yang lahir dari intuisi dan pengalaman. JK melihat Jokowi sebagai pemimpin dari bawah dengan rekam jejak kerakyatan kuat sejak memimpin Solo.
“Pak JK membaca Jokowi bukan dari pencitraan, tapi dari pengalaman mengelola rakyat. Itu seni membaca pemimpin. Itu yang saya sebut orkestra politik negeri ini,” tegas Erles.
Dia juga meluruskan pernyataan JK yang sempat dipelintir seolah “salah memilih”. Menurut Erles, JK justru sedang menjelaskan konteks pentingnya pengalaman dan kesiapan seorang pemimpin nasional.
“Di situ terlihat negarawan bicara. JK menjelaskan konteks, bukan menyerang. Itu kedewasaan politik yang langka,” tambahnya.
Terkait usulan JK agar Presiden Jokowi membuka ijazah asli ke publik, Erles menegaskan tidak ada yang salah. Usulan itu dinilai sebagai langkah elegan untuk mengakhiri polemik.
“Tidak ada yang salah dengan usulan agar Pak Jokowi membuka ijazah asli ke publik. Justru keterbukaan sering menjadi jawaban paling elegan dalam demokrasi,” kata Erles.
“Sebaiknya Pak Joko Widodo buka sajalah ijazah ke publik demi mengakhiri kegaduhan di masyarakat, tidak ada yang salah dengan usul Om Jusuf Kalla ini.”
Sebagai tokoh hukum, Erles menyebut keterusterangan JK membuktikan sejarah tidak boleh ditutup-tutupi.
“Terima kasih Om JK sudah membuka sejarah. Bangsa ini butuh kejujuran sejarah. Dari situlah publik memahami bahwa kepemimpinan nasional bukan lahir tiba-tiba, tetapi melalui proses, pertimbangan, dan kadang intuisi politik yang tajam,” ujarnya.
“Bangsa besar tidak takut membuka sejarahnya. Dan tokoh besar tidak takut menjelaskan perannya. Itu yang ditunjukkan Jusuf Kalla,” tutup Erles Rareral, yang dikenal sebagai Mutiara dari Timur dan Tokoh Pemuda Indonesia.
(Larty).