Rakernis turut menghadirkan narasumber dari akademisi dan praktisi. Kepala Pusat Studi Ilmu Kepolisian Universitas Lambung Mangkurat Assoc. Prof. Dr. Hj. Rahmida Erliyani, S.H., M.H. memaparkan peran kepolisian dalam dinamika hukum modern. Sementara Staf Ahli Kakorlantas Polri sekaligus peneliti keselamatan jalan Tri Cahyana, M.Sc., Ph.D. memaparkan strategi keselamatan lalu lintas berbasis riset. Berdasarkan paparannya, faktor manusia masih menjadi penyebab dominan kecelakaan lalu lintas. Karena itu peningkatan kompetensi teknis harus diiringi penguatan mental dan kualitas pelayanan. Sesi Motivasi: Senam Otak hingga Hipnoterapi
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Polda Kalsel menghadirkan Motivator Nasional sekaligus Direktur Thanks Institute Indonesia Dr. Ketut Abid Halimi, S.Pd.I., M.Pd., C.Ht. untuk membekali mental para peserta. Berbeda dari motivasi konvensional, pembekalan dikemas interaktif melalui metode senam otak, senam hati, dan๐ hipnoterapi. Tujuannya membantu personel meningkatkan konsentrasi, mengelola stres, mengasah kecerdasan emosional, dan membangun pola pikir positif. Melalui senam otak, peserta dilatih meningkatkan fokus dan ketepatan pengambilan keputusan. Senam hati mengajak refleksi diri untuk menumbuhkan empati, sementara hipnoterapi motivasional memperkuat mental dan komitmen berintegritas. “Menjadi Polantas bukan sekadar mengatur arus kendaraan, melainkan menghadirkan rasa aman bagi masyarakat. Ketika pikiran terlatih fokus, hati dipenuhi empati, dan mental kuat, pelayanan yang diberikan akan melahirkan kepercayaan publik. Inilah nilai yang ingin dibangun melalui Polantas KARIB,” ujar Dr. Ketut Abid Halimi. Antusiasme peserta tampak tinggi. Mereka juga mempraktikkan langsung teknik-teknik yang dapat diterapkan dalam tugas sehari-hari. Rakernis ditutup dengan penyerahan penghargaan Call for Papers dan cenderamata kepada narasumber. Melalui kegiatan ini, Polda Kalsel menegaskan transformasi pelayanan lalu lintas tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknis, tetapi juga penguatan karakter dan budaya melayani. (LR).
