Di tempat Pak, Izinkan kami menulis dengan hormat dan hati yang tulus. Kami wartawan. Kami bukan lawan Bapak, dan bukan pula musuh negara. Kami adalah cermin. Tugas kami sederhana: mencatat, bertanya, dan menyampaikan. Mencatat apa yang terjadi di lapangan. Bertanya atas nama rakyat yang tidak punya mimbar. Menyampaikan agar kebijakan Bapak sampai ke desa, dan agar suara desa sampai ke meja Bapak. Ketika kami mengoreksi data, itu bukan karena tidak percaya. Itu karena kami ingin kebijakan Bapak tidak salah sasaran.
Ketika kami mewawancarai pengkritik, itu bukan karena membela satu pihak. Itu karena demokrasi butuh semua suara didengar, agar keputusan Bapak diuji dengan kepala dingin.
Ketika kami menulis berita yang tidak nyaman, itu bukan serangan. Itu bentuk cinta kami pada Indonesia, agar lubang sekecil apa pun tidak menjadi retak yang besar. Bapak pernah memimpin pasukan. Bapak tahu, pasukan yang kuat bukan yang tidak pernah dikoreksi, tapi yang berani mendengar evaluasi agar tidak salah langkah di medan. Negara pun begitu, Pak. “Londo ireng” mungkin keluar sebagai sindiran. Tapi bagi anak muda, mahasiswa, guru, dan ibu-ibu di pasar yang kami temui, kata itu terasa seperti pintu ditutup. Padahal mereka hanya ingin bertanya: “Pak, bagaimana nasib kami?” Padahal konstitusi kita, UUD 1945, sudah menjamin itu. Kebebasan menyampaikan pendapat bukan hadiah. Itu hak. Dan tugas negara, termasuk Bapak sebagai Kepala Negara, adalah menjaganya agar tetap hidup. Bayangkan Pak, 10 tahun dari sekarang. Sejarah akan mencatat: di masa Bapak memimpin, apakah kritik dibungkam atau dipeluk? Apakah wartawan dianggap pengganggu, atau dianggap mitra untuk membuat Indonesia lebih baik? Kami tidak minta dilindungi secara khusus. Kami hanya minta ruang. Ruang untuk bertanya tanpa takut dicap. Ruang untuk berbeda pendapat tanpa dicurigai. Karena dari ruang itulah lahir kebijakan yang lebih kuat, karena sudah diuji dulu di ruang publik. Bapak membangun pertahanan untuk menjaga Indonesia dari luar. Izinkan kami membantu menjaga Indonesia dari dalam, dengan pena, kamera, dan pertanyaan. Kami siap jadi jembatan, bukan jurang. Siap jadi mitra, bukan musuh. Karena tujuan kita sama: Indonesia yang kuat, adil, dan disegani. Dengan hormat, Larty
Pemimpin Redaksi
Yang mencintai negeri ini, dan mencintai demokrasi tempat negeri ini tumbuh. Jakarta, 26 Juli 2026 Larty Rafina Napitupulu FAST RESPON INDEPENDEN SOSIAL CONTROL (INSC) Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia
