REPORTASE  JAKARTA

Penulis Larty Rafina Napitupulu BBA IARMI FSBDSI

Pemimpin Redaksi Reportase Jakarta

JAKARTA – Setiap 1 Juni, Indonesia merayakan Hari Lahir Pancasila. Momentum ini bukan sekadar upacara dan pidato. Di tengah target “Indonesia Maju” menuju “Indonesia Emas 2045”, perayaan tahun ini jadi pengingat: fondasi negara sudah kokoh, tapi tembok pembangunan masih banyak yang harus dirapikan.

Pancasila lahir sebagai kompas bangsa saat Indonesia masih bergejolak. Kini, 79 tahun kemudian, kompas itu dipakai lagi untuk menavigasi visi besar: Indonesia Maju yang berkeadilan, dan lompatan ke Indonesia Emas 2045 saat usia kemerdekaan menginjak satu abad. “Tanpa Pancasila, pembangunan hanya jadi angka. Dengan Pancasila, pembangunan jadi arah,” begitu pesan yang terus digaungkan tiap 1 Juni.

Tahap “Indonesia Maju” fokus pada infrastruktur, hilirisasi, dan pemerataan. Jalan tol, pelabuhan, dan Kawasan Ekonomi Khusus  dibangun masif. Tapi jalan fisik saja tidak cukup. Indonesia Emas 2045 menuntut kualitas: SDM unggul, tata kelola bersih, dan masyarakat yang rukun meski beragam. Dari pembangunan beton, kita harus masuk ke pembangunan karakter.

Lalu apa yang harus kita benahi? Pertama, kualitas pendidikan dan riset. Target 2045 butuh jutaan talenta sains, teknologi, vokasi. Saat ini kesenjangan mutu sekolah kota-desa dan link industri-kampus masih lebar. Benahinya bukan hanya bangun gedung, tapi upgrade guru, kurikulum relevan, dan riset yang dibiayai serius.

Kedua, birokrasi dan hukum yang pasti. Investor dan UMKM sama-sama butuh kepastian. Regulasi yang tumpang tindih, perizinan berbelit, dan penegakan hukum tebang pilih masih jadi keluhan. “Hukum harus jadi panglima, bukan alat,” kata banyak praktisi. Tanpa kepastian hukum, hilirisasi dan investasi terhenti di meja.

Ketiga, toleransi dan ruang dialog. Keberagaman adalah modal emas kita. Tapi polarisasi politik, ujaran kebencian di media sosial, dan intoleransi di ruang publik masih menggerus persatuan. Pancasila sila ke-3 “Persatuan Indonesia” menuntut kita aktif merawat tenggang rasa, bukan hanya saat upacara 1 Juni.

Keempat, transisi energi dan lingkungan. Indonesia Emas tidak bisa dibangun di atas polusi dan banjir. Ekonomi hijau, energi bersih, dan pengelolaan sumber daya berkelanjutan harus jadi arus utama, bukan wacana. Generasi muda yang peduli iklim adalah aset, bukan “ribut”. Mereka perlu ruang dan data.

Kelima, kesehatan dan perlindungan sosial. Stunting, akses layanan kesehatan, dan jaminan sosial masih PR besar. SDM unggul lahir dari anak yang gizinya cukup dan warganya terlindungi saat sakit atau PHK. Negara hadir di titik inilah yang membedakan “maju” dan “emas”.

1 Juni mengingatkan kita: Pancasila bukan hafalan, tapi kerja. Dari Indonesia Maju ke Indonesia Emas 2045, jaraknya 19 tahun. Cukup untuk satu generasi kuliah, kerja, dan memimpin. PR-nya jelas: benahi pendidikan, hukum, toleransi, lingkungan, dan kesehatan. Kalau lima pilar itu beres, visi emas bukan mimpi.

Tahun ini, mari rayakan 1 Juni dengan aksi kecil: cek hoaks sebelum share, bantu anak tetangga belajar, taat aturan, pilah sampah, dan dukung UMKM lokal. Indonesia Emas dibangun bukan oleh segelintir orang di Senayan, tapi oleh jutaan kita yang mau membenahi diri setiap hari.

 

SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA

 

Jakarta, 31 Mei 2026

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *