Jaksa Agung ingatkan tugas jaksa sekarang luas banget. Nggak cuma jadi Penuntut Umum di pengadilan. Tapi juga harus siap jadi Penyidik Tipikor, jalankan fungsi intelijen penegakan hukum, jadi Pengacara Negara, sampai eksekusi pemulihan aset negara. Makanya kecerdasan intelektual saja nggak cukup. Burhanuddin kasih resep jaksa ideal: integritas, nilai adaptif, jiwa korsa, hati nurani, profesionalisme, adab dan etika. Integritas dan Hati Nurani Jadi Benteng
Menurutnya, integritas dengan kesesuaian perkataan, tindakan, nilai kebenaran. Itu benteng utama lawan intervensi kasus besar yang jadi hajat hidup orang banyak. “Keberanian dan integritas institusional inilah yang bikin Kejaksaan jadi lembaga paling dipercaya masyarakat,” ujarnya. Nilai adaptif wajib ada biar jaksa cepat nyetel sama budaya daerah tugas. Penempatan nanti pakai prinsip adil, transparan, terukur, berlandaskan kebangsaan. Jiwa korsa juga penting, tapi Burhanuddin wanti-wanti: jangan disalahgunakan buat bela rekan yang salah. Paling krusial: hati nurani. “Keadilan dan hati nurani nggak tertulis di buku UU, tapi tertanam di sanubari jaksa,” katanya. Biar penegakan hukum nggak kaku, tetap manusiawi. Era Digital dan Ujian Etika
Masuk era digital, Burhanuddin kasih instruksi tegas: hindari gaya hidup mewah berlebihan, komentar provokatif, sebar info hoax. Status jaksa melekat 24 jam, walau nggak pakai atribut. “Kecerdasan tinggi percuma tanpa adab dan etika. Kombinasi cerdas dan adab ditambah dengan etika, ini yang bikin hukum kasih kepastian, manfaat, keadilan yang dirasa masyarakat,” tutupnya. Di akhir, Jaksa Agung apresiasi Kepala Badiklat Leobard Eben Ezer Simanjuntak dan jajaran. Pesannya ke peserta: jadi jaksa yang nggak milih-milih tempat tugas. Setia, tanggung jawab, di mana pun ditempatkan. (Larty).
