Reportasejakarta.com –Jakarta, Ketua Panitia Athea Sarastiani yang juga sebagai Plt Sekretaris Jendral DPP KPPI kepada media mengatakan,” Alhamdulillah hari ini kita sudah membuka Kongres VI KPPI di Jakarta setelah periode 2016 – 2021, sehingga menjadi kewajiban pengurus untuk mengadakan Kongres. Pemilihan mudah-mudahan kita berharap mengedepankan martabat perempuan, visi dan misi kebersamaan perempuan dan mengesampingkan ego sehingga apa-apa yang perempuan cita-citakan itu bisa terbentuk dengan kualitas. 31 Propinsi hadir pada hari ini, 3 propinsi melalui virtual. Doakan saja seluruh perempuan Indonesia KPPI menghasilkan Ketua Umum yang mengedepankan Visi dan Misinya dan mengesampingkan ego masing-masing,”jelas Athea Sarastiani.
Ketua Umum KPPI Dwi Septiawati Djafar menuturkan Dengan Tema ini kami berharap Perempuan bisa membangun kualitas diri menjadi seorang pemimpin yang transformatif yang menginspirasi, memotivasi menumbuh kembangkan kemudian bisa mewarisi kebaikan-kebaikan tentu saja melakukan Sinergitas dan Kolaborasi karena kita berharap ketika perempuan menjadi pemimpin dan kemudian membangun kepemimpinan Transpormatif maka kita bisa menghadirkan sebuah situasi yang kondusif bagi kemajuan perempuan politik.
Pada hari ini Perempuan Politik masih banyak mengalami problem untuk bisa maju baik secara regulasi UU pemilu itu batal untuk di revisi walaupun kami berjuang untuk bisa dilakukan revisi terbatas terkait penguatan kebijakan aspirmasi, kemudian kita juga masih menghadapi tantangan dalam penempatan perempuan di masing-masing pimpinan parpol. Kita juga masih mengalami hambatan dalam membuat perempuan itu memiliki kemampuan untuk membangun basis sosial yang nanti bisa di realisasikan jadi basis politik. Sebenarnya Kami KPPI dari Visi dan Misi kita mencoba untuk menjadikan KPPI sebagai pelopor gerakan perempuan politik yang berkontribusi pada pemenuhan perlindungan dan kemajuan hak-hak politik perempuan, Kita berbicara bukan hak-hak politik sehingga memang konsentrasi kita adalah bagaimana mendorong regulasi terkait dengan keterwakilan perempuan atau representasi, meskipun tidak menutup peluang bagi KPPI juga untuk mendorong di lakukan kajian-kajian dan advokasi terhadap UU yang lain. Tapi supaya jangan terdistrac KPPI fokus tapi tidak menutup peluang dan dukungan kepada hal-hal yang misalnya antara lain meminimalisir dan menghentikan angka kejahatan seksual terjadi pada anak-anak dan perempuan, tentu saja ini memprihatinkan dan saya pikir di tataran akar rumput, implementasi di lapangan perempuan politik ya harus siap, Jadi kita tidak hanya berbicara mendorong regulasinya tapi bagaimana secara implementasi perempuan juga siap menjadi pendamping korban, memberikan dukungan, advokasi bahkan kalau perlu juga membangun misalnya rumah singgah ini kan bentuk konkrit ya, kalau itu di lakukan itu juga akan jadi basis sosial juga untuk perempuan jadi saya lebih mendorong agar perempuan itu tidak hanya bicara mendorong regulasinya tapi juga tunjukkan bahwa keberpihakan itu juga terjadi di tataran implementatif di lapangan,”Tutur Dwi Septiawati Djafar.
Kaukus Perempuan Indonesia atau yang disingkat dengan KPPI, adalah Organisai yang menghimpun seluruh Perempuan yang terjun pada ranah politik Indonesia, terutama anggota DPR dan MPR.
Terhitung tanggal 12-13 Desember 2021, KPPI menggelar Kongres VI, yang dilangsungkan di Hotel Grand Sahid Jakarta, yang diikuti ratusan politisi perempuan dari berbagai provinsi di Indonesia.
Salah satu pendiri KPPI, Tari Siwi Utami menjelaskan bagaimana asal mula KPPI berdiri; โPada saat itu sebetulnya yang saya rasakan pada tahun 2000 saya anggota DPR RI periode 1999 – 2004. Dari 560 anggota Dewan yang perempuan hanya 44 orang, kita merasakan betapa sangat jauh kurang jadi secara jumlah, Jumlah kurang bagaimana kita bisa memperjuangkan hak-hak kepentingan kaum Perempuan. Sehingga kami secara personal berkumpul dari 7 partai politik perempuan yaitu Miranti Abidin dari PAN, Tari Siwi Utami dari PKB, Noviantika Nasution dari PDIP,ย Yunimah Nusofyan dan Rini Amaludin dari Golkar, Mahfudo Ali Ubed dari PPP, Herawati PKS, Nurul Chandra Sari dari PBB Dari 9 pendiri sudah 3 yang Almarhumah.โ ungkapnya.
โKita ingin waktu itu pertama adalah meningkatkan jumlah perempuan di parlemen. Misinya adalah meningkatkan jumlah perempuan di parlemen, target kita adalah 30% perempuan. Mengapa kami ingin jumlah itu di tingkatkan dulu, karena bagaimana mungkin kalau kita memperjuangkan tentang kepentingan perempuan tetapi disana tidak ada orangnya, jadi maka kami pertama adalah meningkatkan jumlah, kualitas, dan pendidikan politik bagi Politisi Perempuan di semua, tingkatkan sehingga pada tanggal 17 Agustus 2000 itu Kami mendirikan Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) dan Alhamdulillah sampai hari ini Kaukus ini sudah 21 tahun sudah 2 Dekade dan 34 Propinsi sudah terbentuk. Yang paling penting adalah Di periode ke 2 kepemimpinan KPPI itu kita mendapatkan award dari NGO lembaga Amerika yang memang dari awal NGO dan Cetro itu mensupport kami.โ Terangnya lagi
โKesuksesan pertama adalah kami bisa menggolkan UU partai politik untuk 30% perempuan di parlemen di semua tingkatkan itu misi kita dan keberhasilan kita mengawal UU sampai di Gol kannya 30% Perempuan di semua tingkatkan jadi tidak hanya di pusat.โ Jawab Tiwi SU saat di cecar pertanyaan seputar keberhasilan KPPI selama ini oleh awak media.
Sementara itu Tiwi SU, juga menjelaskan kepada awak media tentang kriteria Ketua KPPI โuntuk kriteria calon Ketum itu yang pertama tentu saja harus politisi perempuan, Karena memang ini untuk politik. Keduanya punya misi dan visi kebersamaan untuk memajukan politik perempuan Indonesia. Dan jangan lupa kita kadang-kadang sudah duduk kita lupa bahwa ada misi itu, Karena kita sudah sibuk dengan pembentukan struktur kemudian pelaksanaan program, padahal kebersamaan itu penting karena kita ini mengambil sikap bahwa kita saling mensupport. Kita tidak melihat asal usul partai tetapi yang kita lihat adalah kebersamaan dalam berjuang untuk kepentingan perempuan di indonesia,” ujar Tari Siwi Utami.
(Larty).