Wakapolri Komjen Pol. (Purn)
Nanan Soekarna, Ketum HIPAKAD (Himpunan Putra-putri Angkatan Darat) Hariara Tambunan, para pengurus Forum Komunikasi Putra Putri Angkatan Laut (FKPPAL), Angkatan Udara (FKPPAU), FKPPI, Pemuda Pancasila, Tarung Derajat, Kelompok Cipayung Plus, HIPMI, IMI, Waketum KADIN Indonesia Junaidi Elvis, Nofel Hilabi dan Joverly, Sekjen APLI Ina Rachman, Presiden PERIKSHA RIDERS Aldwin Rahadian, Presiden PERIKHSA CIGAR Charles Wicaksana, Wakil Presiden PERIKHSA 4×4 Sunan Kalijaga, Pembina Komunitas Motor Besar (MBI) Pusat Brigjen Pol. Budi Satria Wiguna dan Ketum MBI Pusat Darus Jayalalana, para pengurus Forum Komunikasi Putra Putri Angkatan Laut (FKPPAL), Angkatan Udara (FKPPAU), FKPPI, Pemuda Pancasila, Tarung Derajat dan Kelompok Cipayung Plus. Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menuturkan, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia memiliki keunikan sosial yang sulit ditemukan di negara lain. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk Indonesia telah menembus lebih dari 284 juta jiwa pada tahun 2025, dengan mayoritas menjalankan ibadah Ramadan. Situasi ini menciptakan efek sosial kolektif yang sangat besar, mulai dari meningkatnya aktivitas keagamaan, kegiatan sosial, hingga perputaran ekonomi berbasis UMKM yang melonjak signifikan selama bulan puasa. “Kalau kebersamaan ini dikelola dengan visi kebangsaan yang jelas, Ramadan dapat menjadi titik temu antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Dari pertemuan saat berbuka, bisa lahir gagasan, kolaborasi, dan komitmen untuk menjaga keutuhan NKRI,” kata Bamsoet. Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menambahkan, konsolidasi kebangsaan selama Ramadan harus diarahkan pada agenda yang lebih substansial. Bamsoet mendorong agar kegiatan buka puasa bersama diisi dengan dialog produktif tentang pemberdayaan ekonomi rakyat, penguatan toleransi, serta literasi digital agar masyarakat semakin kebal terhadap provokasi yang memecah belah. “Persatuan bangsa harus dirawat setiap hari. Ramadan memberi kita ruang refleksi dan aksi sekaligus. Jika energi kebersamaan ini dijaga, Indonesia akan semakin kuat menghadapi tantangan global maupun beragam dinamika dalam negeri,” pungkas Bamsoet. (*)
