Reportasejakarta.com — Tegal, 1 Agustus 2021 — Demi menghargai dan menghormati jasa para Pahlawan Kusuma Bangsa yang telah mengorbankan jiwa raganya demi tegaknya mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., memerintahkan prajurit TNI AL di Tegal untuk memindahkan makam para pahlawan yang gugur akibat kekejaman penjajahan Belanda tahun 1947 yang ingin menguasai Indonesia kembali ke Komplek Perjuangan TNI AL Wana Samudera, Kalibakung, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Perintah Pemimpin TNI AL untuk memindahkan makan ke tempat yang lebih baik, selain sebagai bentuk penghargaan sekaligus sebagai sarana menauladani dan meneruskan perjuangannya. Makam para pejuang yang dipindahkan ini berada di tempat yang kurang terawat di sebuah Bukit Tempeh, tempat dimana para pejuang dieksekusi tentara Belanda dalam sebuah lubang yang dibuat sebelumnya.

Supaya peristiwa sejarah ini tetap dikenang, dan generasi muda bisa menauladani perjuangan para pahlawan tersebut, sehingga diharapkan setelah dipindah para ahli waris bisa melaksanakan ziarah dengan mudah. Selama ini untuk bisa berziarah para ahli waris dan masyarakat harus menempuh jalan kaki melalui jalan setapak untuk bisa sampai ke Bukit Tempeh.

Tugas mulia telah dilaksanakan jajaran Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Tegal yang dipimpin langsung Danlanal Tegal Letkol Marinir Ridwan Aziz, M,Tr. Hanla., CHRMP, mulai dari penggalian sampai memindahkan jasad para pahlawan dari Bukit Tempeh serta memakamkan kembali melalui upacara militer. Upaya pemakaman secara militer disaksikan para tokoh masyarakat, para ulama diantaranya Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Habib Luthfi) dan ahli waris KH. Muhammad Syafei Bin Mukti dan H. Yahya bin Sejan serta perwakilan Perwira Tinggi TNI AL Kadisjarahal Laksamana Pertama TNI Supardi, S.E., M.B.A., CHRMP, dan Kadisbintalal Laksamana Pertama TNI Drs. Ian Heryawan.

Kegiatan penggalian para pejuang korban 70 tahun lalu di Bukit Tempeh yang merupakan tempat pembantaian para pejuang yang terdiri para ulama dan pejuang ALRI disaksikan keluarga para ahli waris keluarga KH. Muhammad Syafei Bin Mukti dan H. Yahya bin Sejan dilaksanakan Kamis 29 Juli 2021 didahului dengan doa bersama, setelah penggalian dilaksanakan persemayaman di Monumen Perjuangan TNI AL Kalibakung. Esok harinya pemakaman secara militer dilaksanakan setelah sholat Jumat, yang sebelumnya dilaksanakan tahlil bersama prajurit TNI AL dan ahli waris para pahlawan serta masyarakat Kalibakung.

Seusai pemakaman Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Habib Luthfi) menyampaikan sambutannya bahwa pemindahan makam di Kalibakung ini secara dhohir di tempat yang lebih baik, meskipun dibanding jasa-jasa beliau tidak apa-apanya, akan tetapi Ketauladanan kita semua yang dalam mengangkat, menghargai dan menghormati jasa para pejuang dan bagian dari hamba-hamba Allah menegakkan kembali Sang Saka Merah Putih di bumi pertiwi.

Lebih lanjut dikatakannya kegiatan pemakaman para pahlawan di tempat ini, supaya kita semua menjadi bangsa dan umat yang tidak mudah untuk melupakan sejarah, “Secara fisik yang kita pindahkan, jasanya sudah sulit untuk kenang tetapi secara jiwa hakekatnya beliau tidak mati dan masih menyaksikan apa yang ditinggalkan para beliau dan menanti siapa regenerasi penerus-penerus kita untuk menjaga NKRI,” ujarnya.

Pada kesempatan ini pula Habib Luthfi menyampaikan bahwa untuk meneruskan perjuangan para pahlawan ada dipundak kita semua. “Kami bangsa yang bukan mengecewakan para pejuang tetapi kami bangsa besar hebat mengerti dan menghargai para sesepuh yang punya andil besar dalam tegaknya NKRI”, tegasnya.

Sementara itu, kepada ahli waris dan hadirin yang hadir supaya dapat meneruskan perjuangannya dalam membangun Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju, bisa menjawab tantangan umat dan bangsa dan menjadi tokoh pemersatu bukan pemecah belah dan menjadi pemimpin-pemimpin sejuk bisa mempersatukan umat. Bukan generasi penerus yang mengecewakan beliau-beliau para pejuang.

Demikian berita Dinas Penerangan Angkatan Laut.aju, bisa menjawab tantangan umat dan bangsa dan menjadi tokoh pemersatu bukan pemecah belah dan menjadi pemimpin-pemimpin sejuk bisa mempersatukan umat. Bukan generasi penerus yang mengecewakan beliau-beliau para pejuang.

 

#KasalLaksamanaYudoMargono #PerintahkanPemindahan #Makam,Untuk TNI AL Makamkan Secara Militer Jasad Para Syuhada Pahlawan Bangsa

 

Jakarta, 31 Juli 2021 — Hargai dan hormati jasa para Pahlawan Kusuma Bangsa, TNI Angkatan Laut (TNI AL) memakamkan kembali jasad para syuhada bangsa yang jasadnya telah menjadi tanah, yang merupakan korban kekejaman tentara Belanda pada tahun 1947 ke komplek monumen perjuangan TNI AL Wana Samudera, Kalibakung, Tegal, Jawa Tengah dalam suatu upacara militer, Jumat (30/7).

 

Sehari sebelumnya jasad para pejuang korban 70 tahun lalu yang berada di Bukit Tempeh digali untuk dipindahkan di tempat yang lebih layak di Wana Samudera. Penggalian makam yang merupakan tempat pembantaian para pejuang yang terdiri para ulama dan pejuang ALRI disaksikan keluarga para ahli waris. KH Muhammad Syafei Bin Mukti dan H. Yahya bin Sejan. 

 

Upacara pemakaman para pejuang oleh Pangkalan TNI Angkatan Laut Tegal yang dipimpin Letkol Marinir Ridwan Aziz, M.Tr. Hanla., CHRMP. ini disaksikan para prajurit TNI Angkatan Laut, Kadisjarahal Laksamana Pertama TNI Supardi, S.E., M.B.A., CHRMP, Kadisbintalal Laksamana Pertama TNI Drs. Ian Heryawan, Keluarga ahli waris dan Masyarakat serta para ulama dan tokoh masyarakat diantaranya Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Habib Luthfi).

 

Informasi adanya makam yang merupakan tempat pembantaian didapatkan dari masyarakat bahwa pada tahun 1947 telah terjadi pembantaian pihak tentara Belanda kepada para Ulama dan pejuang ALRI. Menurut saksi mata Suwarno saat itu berusia sekitar 10 tahun melihat kejadian adanya ulama bersama pejuang ALRI diberondong senapan setelah sebelumnya disuruh menggali lobang. Hasil laporan tersebut ditindaklanjuti TNI AL dengan melaksanakan riset dan penelitian memang pada waktu itu telah terjadi bencana kemanusian berkaitan dengan pembantaian tersebut.

 

Hasil dari penggalian di tempat tersebut ditemukan berupa proyektil dan bekas selongsong peluru dan ikat kepala yang masih tertingal yang diyakini milik H. Yahya bin Sejan, hal ini diyakini para ahli warisnya bahwa waktu kejadian H. Yahya memakai ikat kepala yang ditemukan.

 

#beritaDinas PeneranganAngkatan #LautHormatiLautHormati, #TeladanTNI                   

#JasPahlawan   

#M9empertahankan Kemerdekaan

(Red).

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *